Play & Learn

All about Play & Learn


Anak Ketergantungan Gadget, Begini 5 Trik Screen Time dengan Metode Montessori

Anda selama ini sudah berusaha membatasi ketergantungan gadget pada anak, Coba beberapa strategi yang terinspirasi dari Montessori berikut

6 July 2019 8:00

Apakah Mama kerap merasa bersalah atau stres setiap kali terpaksa memberikan smartphone ke anak agar bisa duduk diam? Atau, Anda ingin sekali membatasi “screen time”, tetapi tidak tahu bagaimana caranya?World Health Organization atau WHO telah merilis pedoman yang mengumumkan “screen time” untuk anak usia di bawah 5 tahun hanya boleh 1 – 2 jam setiap hari. Bahkan, anak usia 0-2 tahun sama sekali tidak direkomendasikan bermain gadget dahulu.

Jika Anda selama ini sudah berusaha membatasi ketergantungan gadget pada anak, jangan berkecil hati. Coba beberapa strategi yang terinspirasi dari Montessori berikut untuk membantu memenuhi target “screen time” anak.

1. Lebih aktif bergerak

Montessori merekomendasikan agar bayi bebas bergerak sejak lahir. Untuk bayi, Montessori unttidak memakai alat apa pun, termasuk kursi bayi atau walker. Sebagai alternatif, bayi menghabiskan waktu di lantai dengan merangkak, bergulung, mencoba duduk, dan lainnya.

Istilah ini lebih populer dengan “tummy time”. WHO menyarankan agar bayi dilatih “tummy time” setiap 30 menit per hari.

Sedangkan untuk anak – anak, dorong mereka agar bermain di luar rumah atau aktif secara fisik. Misalnya, jika anak senang bermain puzzle, letakkan puzzle di ruang berbeda agar anak bisa berlari atau berjalan. Hal ini juga dapat melatih otak dan memori anak untuk mengingat bagian mana yang mereka cari sekaligus berolahraga.

2. Latih anak agar bisa bermain mandiri

Alasan umum orangtua menawarkan smartphone pada anak adalah agar mereka memiliki beberapa menit berharga untuk mengerjakan tugas mereka sendiri. Tapi, ada alternatif lain, yaitu membantu anak belajar bermain mandiri.

Jika anak belum terbiasa bermain sendiri, perkenalkan secara bertahap dan bersiaplah menghadapi kemungkinan anak “protes”. Perubahan bisa terjadi secara bertahap.

Mulailah mendorong anak bermain sendiri selama 10 menit ketika bermain di ruangan yang sama. Secara perlahan tingkatkan waktu sesuai ekspektasi. Namun, pastikan juga bahwa anak sudah memiilki mood yang bagus, misalnya setelah sarapan atau makan siang.

3. Bantu anak secara bertahap

Sekalipun Anda ingin anak – anak bisa bermain secara mandiri, terkadang anak membutuhkan sedikit bantuan untuk memulainya. Strategi ini juga berlaku di kelas Montessori, terutama di taman bermain. Anak mulai dilatih permainan lempar dan tangkap bola, kemudian biarkan anak melakukannya sendiri.

Atau, Anda bisa menghabiskan waktu beberapa menit untuk menunjukkan kepada anak cara membangun pasir atau membuat lego. Setelah anak merasa mampu, biarkan mereka bermain sendiri dan amati apa yang mereka ciptakan. Di rumah, duduklah bersama untuk menggambar bersama anak, lalu diam – diam pindah ke dapur atau mengerjakan tugas lain.

4. Melaksanakan rutinitas

Jika ingin membuat perubahan, tetapi khawatir anak – anak merengek dan meminta smartphone, cobalah menerapkan rutinitas agar anak tahu kapan “screen time” dilakukan. Di kelas Montessori, anak – anak memiliki banyak kebebasan, tetapi semuanya masih dalam pengawasan.

Setelah pulang dari sekolah, anak mungkin makan siang dan tidur siang sebentar. Kemudian, anak – anak bisa diajak berman. Harapannya, anak jadi lebih memahami kapan waktu bermain, dan kapan waktu belajar.

Di rumah, atur screen time misalnya hanya 30 menit setiap hari sepulang sekolah atau hanya boleh di hari Minggu.

5. Persiapkan lingkungan

Instuktur Montessori membagi proses belajar anak menjadi hubungan tiga arah, yaitu anak, guru dan lingkungan. Lingkungan bisa berupa sekolah dan rumah. Lingkungan ini harus dibentuk agar anak bisa bermain aktif dan merangsang daya kognitif.

Jika anak memiliki ruang terbuka, amati anak ketika bermain. Adakah cara agar anak merasa tertantang? Misalnya, biarkan mereka memanjat, melempar, menggantung atau membawa barang yang berat? Atau adakah cara agar anak terlatih life skill-nya, seperti menyiram tanaman atau menyapu teras?

Pertimbangkan hal – hal ini agar anak menyukai permainan di luar ruangan dan melupakan gadgetnya. Mulailah dari hal yang kecil dan cobalah strategi ini untuk membuat perubahan sesuai ekspektasi Anda.


Responses
Write a responses...
Shopping Cart