Connect with us

Mamapedia

Ajari Anak Mengatasi Kekalahan dan Kekecewaan

Behavior

Ajari Anak Mengatasi Kekalahan dan Kekecewaan

Karena kemampuan anak yang belum bisa berkembang dalam mengidentifikasi emosinya, maka anak sulit untuk mengungkapkan perasaannya yang akan berdampak pada perkembangan emosi dan psikologisnya

Semua orang tua tentunya ingin anaknya kelak menjadi orang sukses dan bahagia. Namun pada kenyatannnya tidak semua dapat berjalan sesuai dengan rencana kita. Dalam kehidupan mengalami kekalahan dan rasa kecewa tidak dapat dihindari.

Dalam menghadapi kekalahan atau kekecewaan terdapat lima tahap yang dihadapi oleh seseorang.

  1. Denial yaitu ketika seseorang menolak kenyataan baik rasa kecewa, kekalahan, maupun kehilangan.
  2. Anger yaitu ketika seseorang marah dan berpikir mengapa saya mengalami kejadian ini
  3. Bargaining yaitu ketika seseorang berpikir andaikan saya tidak melakukan itu, tentunya hal ini tidak akan terjadi
  4. Depression yaitu tahap ketika seseorang merasa tidak bergairah dalam menjalani kehidupan, ekspresinya dapat dengan menangis, mengurung diri atau mengisolasi diri.
  5. Acceptance merupakan tahap ketika seseorang menerima dan dapat berdamai dengan keadaan yang dialaminya.

Tahapan ini berbeda-beda pada setiap orang, tergantung karakter masing-masing orang. Tentunya kita berharap agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, yang dapat menerima kekalahan yang dialaminya dan dapat mengatasi rasa kecewanya dengan sikap yang dewasa.

Namun, karena kemampuan anak yang belum bisa berkembang dalam mengidentifikasi emosinya, maka anak sulit untuk mengungkapkan perasaannya yang akan berdampak pada perkembangan emosi dan psikologisnya. Karena itu, sebagai orang tua, kita perlu membantu melatihnya menerima kekalahan dan mengatasi rasa kecewa yang dialaminya.

Apa yang dapat kita lakukan saat anak mengalami kekalahan dan merasa kecewa?

  1. Tidak menyalahkan anak atas apa yang terjadi namun menjelaskan dengan lembut bahwa kekecewaan dan kekalahan adalah hal yang wajar, tentunya dengan menggunakan penjelasan yang mudah dipahami anak.
  2. Membantu anak mengungkapkan perasaannya, misalnya dapat dilakukan sambil bercerita, bermain. Sehingga anak bisa berbicara mengenai apa yang dia rasakan. Rasa marah, sedih, ataukecewa yang ia rasakan harus keluar dan diatasi bersama, sehingga anak akan belajar cara mengendalikan emosinya
  3. Ajak anak berpikir kreatif seperti mencari solusi bersama untuk mengatasi kekecewaannya dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya. Tidak lupa menekankan kembali bahwa banyak hal lain yang tidak kalah menyenangkan yang dapat dilakukan, sehingga tidak perlu merasa sedih atau kecewa yang berlarut.
  4. Lakukan hal yang sama setiap kali mengalami peristiwa yang sama dengan konsisten. Ajari anak tidak perlu menolak setiap kekalahan dan rasa kecewa, namun terimalah sebagai sesuatu perasaan yang wajar.
  5. Memberikan teladan yang sama saat kita mengalami kekecewaan. Karena anak-anak lebih meniru apa yang mereka lihat dari kehidupan sehari-hari daripada teori yang kita ajarkan.

Source: Freepik

Yang tidak kalah pentingnya adalah perilaku kita saat anak menang atau mendapatkan apa yang ia inginkan. Pujilah prosesnya, bukan cuma hasilnya. Sebaiknya kita tidak hanya berorientasi pada hasil yang dicapai atau kemenangannya saja, namun yang harus lebih diapresiasi adalah proses ketika anak meraih kemenangan, Misalnya, bagaimana ia berlatih dengan tekun, atau berlomba dengan ulet, tidak menyerah, dan tidak curang. Dengan memuji proses, anak belajar bahwa untuk meraih suatu keberhasilan, dibutuhkan proses dan kerja keras.

Kita dapat melatih anak mengatasi kekalahannya melalui permainan bersama dengan anak. Belajar menerima kekalahan dan tidak bermain curang bukan hal mudah bagi anak. Karena itu, sebaiknya orang tua tidak membiarkan anak selalu memenangkan permainan sehingga mereka tahu arti kompetisi dan belajar mengatasi kekalahan.

Happy Parenting dan Semoga Bermanfaat!

Continue Reading
You may also like...

Memulai kariernya sebagai auditor di Kantor Akuntan Publik Deloitte. Awalnya ia memilih sebagai working mom, namun saat anak pertamanya berusia 2 tahun dimana pada periode tersebut anak suka meniru, ia memutuskan untuk menjadi full time mom. Keterbatasan pengetahuannya dalam parenting mendorongnya untuk memperdalam edukasi mengenai parenting anak. Membaca buku, mengikuti seminar dan pelatihan, menjadi kegiatan yang ia lakukan untuk menambah pengetahuannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Behavior

Trending

To Top